Inilah Kesedihan Rasulullah Dan Sahabat di Penghujung Ramadhan
Minggu, 17 Mei 2020
Waktu terus bergulir dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu…. Rasanya baru kemarin kita begitu bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan tarbiyah, bulan latihan, bulan Quran, bulan maghfirah, bulan yang penuh berkah.
Namun beberapa saat lagi, Ramadhan akan meninggalkan kita, padahal kita belum optimal melaksanakan qiyamul lail kita, belum optimal membaca Al-Quran serta belum optimal melaksanakan ibadah-ibadah lain, target-target yang kita pasang belum semuanya terlaksana.
Dan kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih dapat berjumpa dengan Ramadhan berikutnya.
“Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.”
Bagi para salafush shalih, setiap bulan Ramadhan pergi meninggalkan mereka, mereka selalu meneteskan air mata.
Di lisan mereka terucap sebuah doa yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Ramadhan menghampiri diri mereka.
Orang-orang zaman dahulu, dengan berlalunya bulan Ramadhan, hati mereka mejadi sedih.
Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Ramadhan, pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka.
Hal ini berbanding terbalik dengan generasi sekarang, jika bulan ramadhan akan berakhir, justru orang-orang mulai disibukkan dengan hiruk pikuk Idul Fitri.
Bukannya bersedih kalau Ramadhan akan berakhir, tetapi bergembira karena Idul Fitri segera tiba. Berbagai luapan kegembiraan menyambut 1 Syawal. Mal-mal menjadi padat, lalu lintas pun padat hingga perjalanan menjadi lambat merayap
Rumah pun di cat, serta Baju baru serta makanan yang enak telah disiapkan.
Perbedaan pandangan antara generasi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya dengan generasi kita saat ini sangatlah mencolok.
Jika Para sahabat dan orang orang salafus shalih sibuk memenuhi makanan ruhani dengan bersungguh-sungguh beribadah sepanjang siang dan malam di akhir ramadhan, tidak dengan generasi saat ini yang justru sibuk dengan kue lebaran, baju baru dan rumah dengan cat yang baru.
Jika para sahabat dan orang-orang salafus shalih sibuk menghabiskan waktu mereka dengan beribadah kepada Allah dengan mendekatkan diri kepadaNya dalam khusyuknya shalat, dzikir dan bermunajat.
Rumah pun di cat, serta Baju baru serta makanan yang enak telah disiapkan.
Perbedaan pandangan antara generasi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya dengan generasi kita saat ini sangatlah mencolok.
Jika Para sahabat dan orang orang salafus shalih sibuk memenuhi makanan ruhani dengan bersungguh-sungguh beribadah sepanjang siang dan malam di akhir ramadhan, tidak dengan generasi saat ini yang justru sibuk dengan kue lebaran, baju baru dan rumah dengan cat yang baru.
Jika para sahabat dan orang-orang salafus shalih sibuk menghabiskan waktu mereka dengan beribadah kepada Allah dengan mendekatkan diri kepadaNya dalam khusyuknya shalat, dzikir dan bermunajat.
Justru generasi sekarang sibuk menghabiskan waktu dengan pergi ke mal dan menghabiskan uangnya untuk membeli pakaian baru dan kue-kue yang lezat.
Mereka tidak menyadari jika ramadhan berakhir, maka akan berakhir pula segala ibadah-ibadah yang memiliki derajat yang tinggi dan segala amal sunnah yang diganjar pahala amal wajib bahkan berlipat ganda.
Jadi sepatutnya semua kita bersedihn. Lebih-lebih lagi, kita tak tahu apakah akan bisa bertemu kembali dengan Ramadhan selanjutnya. Mungkin ada yang meninggalkan dunia ini selama-lamanya. Kalaupun masih hidup dan bertemu dengan Ramadhan selanjutnya, mungkin tak sesehat pada Ramadhan kali ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar