Senin, 18 Mei 2020

ASAL MULA KOTA CIKARANG

Selasa, 19 Mei 2020

Dalam perjalanan sejarahnya, Cikarang tidak terlepas dari sejarah Bekasi, baik masa kerajaan maupun disaat era perjuangan di tahun 1940-an. Menelisik dari litertur sejarah yang ada, memang ti
dak disebutkan secara eksplisit keberadaan Cikarang, namun sebagai bagian dari wilayah Bekasi, hampir dipastikan bahwa Cikarang pun memiliki peranan dalam sejarah bangsa ini.

Di era perjuangan, wilayah Cikarang saat ini merupakan wilayah yang menghubungkan antara Kota Bekasi dan Karawang. Memang sangat disayangkan sangat sedikit sekali rekam jejak sejarah yang menceritakan peranan wilayah Cikarang dalam sejarah perjuangan bangsa ini.

Salah satu yang tercatat adalah di wilayah Cibarusah, dimana terdapat rekam jejak perjuangan Laskar Hizbullah-Salilillah pimpinan KH Wahid Hasyim pada tahun 1937. Laskar ini memiliki peranan penting dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang. Wilayah ini dijadikan tempat pelatihan semi-militer bagi laskar tersebut. Dalam catatan Ali Anwar, seorang sejarawan Bekasi, menuliskan :

Latihan semi-militer Hizbullah diselenggarakan selama dua bulan di Cibarusah, Bogor (sejak 1950 Cibarusah dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Bekasi).

Pada angkatan pertama latihan, diikuti 150 pemuda yang dikirim dari tiap keresidenan di seluruh Jawa dan Madura. Masing-masing keresidenan sebanyak lima pemuda. Jumlah anggota Hizbullah diperkirakan mencapai 50 ribu orang.

Mengenai lokasinya persisnya, saya belum bisa memastikan. Namun, beberapa sumber yang keterangannya masih perlu dicross-check lagi, menduga bukan di mesjid Al-Mujahidin, melainkan di asrama bekas kongsi jaman Belanda.

Saifuddin Zuhri, tokoh NU yang pada 1944 sebagai sekretaris pribadi KH. A. Wahid Hasyim, ikut latihan Hizbullah di Cibarusah, mendeskipsikan bahwa pusat latihan terletak di sebuah tanah lapang seluas 20 hektare dekat perkebunan karet.

Masih diperlukan penggalian sumber sejarah yang lebih mendetail untuk menyingkap sejarah Cikarang dan sekitarnya, terlebih dengan adanya rekam jejak sejarah Cibarusah sebagai tempat pelatihan semi-militer bagi perjuangan bangsa.

Kota Industri Terpadu Cikarang

Cikarang saat ini tidak terlepas dari Sejarah Kota Industri Cikarang yang diawali dengan pembebasan lahan di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi, oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1989. Pembebasan ini mengundang investor pengembang perkotaan untuk membangun sebuah kota terpadu di wilayah Cikarang.

Pengembang perkotaan seperti Jababeka, Lippo Cikarang dan Kota Deltamas telah merubah kawasan yang sebelumnya area tandus yang berbukit-bukit  menjadi sebuah kawasan industri yang dipadukan dengan kawasan hunian. Saat ini Cikarang menjadi sebuah pusat bisnis. Pembangunan kota mandiri ini turut pula memacu perkembangan di wilayah sekitarnya.

Pembangunan kawasan terpadu tidak saja melahirkan sebuah percepatan pertumbuhan di wilayah Cikarang, namun efek dari keberadaan kota industri juga harus menjadi perhatian bagi segenap kalangan.

Sebuah perjalanan sejarah yang panjang bagi Kota Cikarang hingga menjadi seperti saat ini. Perlu kerjasama semua kalangan untuk terus menciptakan sebuah sejarah positif bagi Cikarang kedepannya.

#JejakSangHijrah

Sabtu, 16 Mei 2020

Kesedihan Rosulullah di akhir Ramadhan

Inilah Kesedihan Rasulullah Dan Sahabat di Penghujung Ramadhan
Minggu, 17 Mei 2020

Waktu terus bergulir dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu…. Rasanya baru kemarin kita begitu bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan tarbiyah, bulan latihan, bulan Quran, bulan maghfirah, bulan yang penuh berkah.

Namun beberapa saat lagi, Ramadhan akan meninggalkan kita, padahal kita belum optimal melaksanakan qiyamul lail kita, belum optimal membaca Al-Quran serta belum optimal melaksanakan ibadah-ibadah lain, target-target yang kita pasang belum semuanya terlaksana.

Dan kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih dapat berjumpa dengan Ramadhan berikutnya.

“Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.”

Bagi para salafush shalih, setiap bulan Ramadhan pergi meninggalkan mereka, mereka selalu meneteskan air mata.

Di lisan mereka terucap sebuah doa yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Ramadhan menghampiri diri mereka.

Orang-orang zaman dahulu, dengan berlalunya bulan Ramadhan, hati mereka mejadi sedih.
Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Ramadhan, pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka.

Hal ini berbanding terbalik dengan generasi sekarang, jika bulan ramadhan akan berakhir, justru orang-orang mulai disibukkan dengan hiruk pikuk Idul Fitri.

Bukannya bersedih kalau Ramadhan akan berakhir, tetapi bergembira karena Idul Fitri segera tiba. Berbagai luapan kegembiraan menyambut 1 Syawal. Mal-mal menjadi padat, lalu lintas pun padat hingga perjalanan menjadi lambat merayap
Rumah pun di cat, serta Baju baru serta makanan yang enak telah disiapkan.

Perbedaan pandangan antara generasi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya dengan generasi kita saat ini sangatlah mencolok.

Jika Para sahabat dan orang orang salafus shalih sibuk memenuhi makanan ruhani dengan bersungguh-sungguh beribadah sepanjang siang dan malam di akhir ramadhan, tidak dengan generasi saat ini yang justru sibuk dengan kue lebaran, baju baru dan rumah dengan cat yang baru.

Jika para sahabat dan orang-orang salafus shalih sibuk menghabiskan waktu mereka dengan beribadah kepada Allah dengan mendekatkan diri kepadaNya dalam khusyuknya shalat, dzikir dan bermunajat.

Rumah pun di cat, serta Baju baru serta makanan yang enak telah disiapkan.

Perbedaan pandangan antara generasi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya dengan generasi kita saat ini sangatlah mencolok.

Jika Para sahabat dan orang orang salafus shalih sibuk memenuhi makanan ruhani dengan bersungguh-sungguh beribadah sepanjang siang dan malam di akhir ramadhan, tidak dengan generasi saat ini yang justru sibuk dengan kue lebaran, baju baru dan rumah dengan cat yang baru.

Jika para sahabat dan orang-orang salafus shalih sibuk menghabiskan waktu mereka dengan beribadah kepada Allah dengan mendekatkan diri kepadaNya dalam khusyuknya shalat, dzikir dan bermunajat.


Justru generasi sekarang sibuk menghabiskan waktu dengan pergi ke mal dan menghabiskan uangnya untuk membeli pakaian baru dan kue-kue yang lezat.

Mereka tidak menyadari jika ramadhan berakhir, maka akan berakhir pula segala ibadah-ibadah yang memiliki derajat yang tinggi dan segala amal sunnah yang diganjar pahala amal wajib bahkan berlipat ganda.

Jadi sepatutnya semua kita bersedihn. Lebih-lebih lagi, kita tak tahu apakah akan bisa bertemu kembali dengan Ramadhan selanjutnya. Mungkin ada yang meninggalkan dunia ini selama-lamanya. Kalaupun masih hidup dan bertemu dengan Ramadhan selanjutnya, mungkin tak sesehat pada Ramadhan kali ini.

ASAL MULA KOTA CIKARANG

Selasa, 19 Mei 2020 Dalam perjalanan sejarahnya, Cikarang tidak terlepas dari sejarah Bekasi, baik masa kerajaan maupun disaat era perjuanga...